Kasus Pecandu Narkoba dengan HIV&AIDS

Conducted : RSCM Jakarta, December 2007

hiv

Klien (perempuan; saat itu berusia 23 tahun) pertama kali dibawa ke RSCM pada awal bulan November 2007 dengan keluhan mengalami dua kali penurunan kesadaran selama ±5 menit pada saat 12 jam dan 6 jam sebelum masuk rumah sakit. Selain itu juga disertai gejala mual, muntah, dan penglihatan ganda. Sementara itu, dua minggu sebelum masuk rumah sakit klien juga sempat mengeluh sakit kepala dan sakit seluruh tubuh. Kemudian pada pemeriksaan dokter terakhir pada pertengahan November 2007, klien mengaku sakit kepalanya berkurang, nafsu makan meningkat, dan mual berkurang. Meskipun ia telah berada di rumah sakit selama dua bulan dan keadaannya kini telah membaik, namun klien masih belum dapat pulang kembali ke rumah dan harus menjalani CT Scan bulan Desember 2007. Klien didiagnosa AIDS dan mengalami infeksi oportunis Primary Central Nervous System Lymphoma (tumor otak).

Analisis Kasus

Sejak kecil, klien merasa bahwa ayah dan ibunya tidak menyayangi dan memperhatikan dirinya karena sejak SD mereka menitipkannya ke tempat nenek dan kakeknya di luar kota setelah mereka bercerai. Ayahnya pun jarang mengunjunginya selama ia di sana. Meskipun ibunya selalu menengoknya setiap dua minggu sekali, namun klien  merasa ibunya hanya mencukupi kebutuhan finansialnya namun tidak memberikan perhatian seperti yang ia harapkan.

lovePerlakuan orang tua yang tak sesuai dengan harapan klien ini menimbulkan rasa kecewa pada diri klien terhadap kedua orang tuanya. Di bangku SD dan SMP, klien berusaha tampil sebagai anak yang penurut dan berprestasi di lingkungan luar rumahnya. Klien berharap dengan demikian ia akan mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang didambakannya dari kedua orang tuanya. Akan tetapi sikap orang tua tidak berubah padanya. Dengan demikian kebutuhan klien akan afeksi atau cinta yang tinggi dari kedua orang tuanya pun tidak terpenuhi.

Peristiwa menyedihkan kemudian terjadi ketika kakeknya yang selama ini sangat dekat dengan klien meninggal dunia. Klien merasa kehilangan satu-satunya sumber afeksinya sekaligus pegangan dalam hidupnya. Ia tidak lagi memiliki figur orang tua yang dapat membuatnya merasa mendapatkan dukungan dan kasih sayang. Perasaan negatif yang ditekan ini kemudian semakin meningkat ketika ia diasuh oleh tantenya sepeninggal kakeknya. Pola pengasuhan tantenya yang keras membuat klien merasa tidak bahagia dan tidak dicintai karena ia terlalu dibatasi dan tidak diberikan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri.

Di sisi lain, klien mulai menginjak usia remaja dimana krisis identitas mulai ia alami. Klien ingin menunjukkan jati dirinya dan mendapatkan pengakuan serta penerimaan namun hal tersebut tidak ia peroleh di lingkungan rumah atau keluarganya. Klien kemudian mulai mencari pemenuhan kebutuhan tersebut di lingkungan teman-temannya. Dengan keadaan klien yang tidak memiliki pegangan dalam hidup tersebut, maka menjadi mudah bagi dirinya untuk terpengaruh dan jatuh dalam pergaulan yang salah demi mendapatkan dukungan yang ia butuhkan saat itu.

Klien terpengaruh oleh teman-temannya untuk menggunakan narkoba dan mendapatkan kenikmatan serta merasa beban hidupnya hilang untuk sementara waktu. Namun sebenarnya rasa marah dan kecewa dalam dirinya tetap tidak dapat hilang karena efek dari heroin hanya bertahan sementara waktu dan bersifat semu. Klien mengembangkan strategi moving away dengan menghindari lingkungan sosial dan mencari jalan keluar yang dinilai tidak tepat di lingkungannya, misalnya dengan menggabungkan diri dalam kelompok pengguna narkoba.

Pola kepribadian yang lemah ini membuatnya sulit untuk mengambil keputusan yang tepat dalam hidupnya dan jatuh dalam kecanduan heroin. Selain itu, pemakaian jarum suntik untuk mengkonsumsi heroin dan pengetahuannya yang kurang mengenai dampak buruknya akhirnya membuatnya terinfeksi HIV. Tanpa mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi, pada tahun 2003 infeksi opportunistik mulai muncul seperti penyakit TB Paru. Gejala-gejala berupa penurunan berat badan dan kondisi badan yang lemah menjadi efek dari tingkat klinik infeksi HIV yang telah mencapai tingkat menengah. Pada tahun 2004, klien akhirnya mengetahui dengan pasti bahwa ia terinfeksi HIV ketika ia menjalani pemeriksaan medis di sebuah Rutan karena kasus narkoba. Namun pola kepribadian yang labil dan pengetahuan yang kurang membuatnya tidak terdorong untuk berusaha melakukan perawatan terhadap kondisinya.

Hal ini menunjukkan bahwa klien masih berada pada tahapan denial dalam penyesuaian diri terhadap prospek kematian karena ia cenderung mengabaikan penyakitnya dan menunjukkan sikap yang cenderung tidak peduli, sehingga membuat kondisinya semakin memburuk. Selama masa 4 tahun gejala-gejala terus tampil dan menunjukkan penurunan kekebalan tubuh klien secara cepat. Akhirnya pada bulan April 2007, kondisi CD4 klien semakin menurun hingga berada di bawah 200 per mm3, yang berarti fungsi sistem kekebalan tubuhnya sudah memburuk. Ketika dibawa ke RSCM, klien akhirnya mengetahui bahwa HIV-nya telah berkembang menjadi AIDS. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa ia sudah sampai pada tahap AIDS dan keadaan fisiknya telah semakin memburuk karena muncul gejala utama, antara lain infeksi oportunitis berupa meningitis TB dan toxoplasmosis otak.

Diagnosis AIDS tersebut membuat klien mulai bersedia menjalani perawatan untuk penyakitnya tersebut. Klien mulai bersedia menjalani berbagai pemeriksaan medis dan mematuhi semua saran dokter. Pada tahap ini klien sebenarnya mulai memasuki tahap bargaining atas penyakitnya. Klien masih berpikir bahwa keadaannya akan membaik karena setelah menjalani pengobatan ia merasakan perbaikan kondisi fisiknya dimana semua gejala yang dikeluhkan telah hilang. Namun sayangnya hal tersebut telah terlambat karena setelah gejala awal yang ia keluhkan hilang, ia justru diduga mengalami infeksi oportunistik lain yaitu Lymphoma. Meskipun mengaku pasrah dengan keadaannya, namun hingga terakhir pemeriksaan klien masih menunjukkan semangat untuk menjalani perawatan dan merencanakan masa depannya. Tetapi sebulan setelah pemeriksaan psikologis, klien pun akhirnya meninggal dunia karena Lymphoma-nya tidak dapat lagi tertanggulangi.

Saran Praktis

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh seorang Psikolog ketika masa-masa krisis sebelum kematian terjadi adalah sebagai berikut:

  • Psikoterapi suportif ditujukan untuk berempati dan menumbuhkan optimisme pada diri klien untuk menjalani perawatan.
  • Psikoedukasi (termasuk di dalamnya pemberian informasi) kepada klien dan keluarganya mengenai HIV&AIDS agar mereka benar-benar memahami kondisinya dan dapat memberikan dukungan yang optimal baik secara material maupun emosional.
  • Konseling kepada klien untuk dapat menerima kondisinya yang terinfeksi HIV dan memfokuskan pada komitmen pengobatan dan perencanaan masa depan (khususnya jangka pendek mengingat klien masih terfokus dalam perawatan medis).

loveheals


2 Comments

  1. dancesportui said,

    May 28, 2009 at 3:43 pm

    what a life..

  2. astro said,

    September 15, 2009 at 7:47 am

    Ya ampun klien kenapa lho berbuat senekat itu, hingga lho kena aids. saran gue lho harus tetap jaga kondisi tubuh agar cepat sehat


Post a Comment