
Koordinator Satgas I Badan Narkotika Nasional (BNN) KBP, H Thamrin Dahlan mengatakan bahwa sebanyak 51 ribu pecandu narkoba meninggal per tahun. Apabila dirata-ratakan ada 41 orang pecandu yang meninggal per hari, dan hampir dua orang meninggal per jamnya. Menurut Thamrin, sebagian besar korban penyalahgunaan narkoba itu meninggal bukan di lokasi fasilitas terapi dan rehabilitasi, melainkan di jalan dan tempat hiburan. Sementara itu, jenis narkoba yang dominan dipakai pecandu adalah heroin. Banyaknya korban penyalahgunaan narkoba tersebut karena stigma korban takut berobat ke fasilitas terapi dan rehabilitasi (http://www.tvone.co.id)
Stigma adalah hal yang paling kejam diterima oleh individu, termasuk pecandu narkoba. Stigma inilah yang membuat pecandu narkoba dan keluarganya menjadi semakin sulit untuk mendapatkan bantuan dan dukungan yang mereka butuhkan. Stigma yang memojokkan para pecandu narkoba dan keluarganya sangat kuat berakar sehingga stigma tersebut terus berlanjut meskipun pecandu narkoba telah berhenti menggunakan narkoba selama sekian tahun atau memiliki kehidupan yang sukses seperti orang lain yang tidak pernah menggunakan narkoba.
Stigma tersebut kemudian membuat pecandu dan keluarganya menyembunyikan permasalahan kecanduan narkoba yang mereka alami. Diskriminasi terasa sangat menyakitkan karena mereka seolah-olah dibedakan dari orang lain yang dianggap “normal”. Pecandu ataupun keluarga yang membutuhkan bantuan akan permasalahan mereka kemudian menjadi malu atau takut untuk mengungkapkan kenyataan yang ada.
Keluarga terutama orang tua bahkan lebih sering mengambil keputusan untuk menyembunyikan permasalahan adiksi anaknya dan menganggapnya sebagai hal yang lebih baik untuk dilakukan dibandingkan kehilangan nama baik keluarga. Menyembunyikan kenyataan tersebut membuat permasalahan baru bagi pecandu narkoba dan keluarga dimana disfungsi dalam keluarga akhirnya muncul [4]. Rasa bersalah ditambah dengan tidak adanya langkah menuju pemulihan lebih lanjut akibat takut menghadapi stigma membuat pecandu narkoba dan keluarga semakin tenggelam dalam permasalahannya.
“Recovery is one of the best kept secrets in the country,” says Texas recovery advocate Joe Powell, a leader of Faces & Voices and head of a recovery center [4]. “Most people don’t know who’s in recovery. And we gotta speak loud about that.”
Seringkali saya sendiri juga mendapatkan para orangtua di Indonesia yang takut dengan stigma dari masyarakat dan akhirnya menyembunyikan kenyataan bahwa anaknya sedang menjalani pemulihan di sebuah rehabilitasi narkoba dengan berbohong mengatakan si pecandu sedang belajar atau bekerja di luar kota atau luar negeri. Permasalahan yang dihadapi seorang pecandu narkoba dan keluarganya bukan hanya sebatas pada program pemulihan di rehabilitasi, karena ketika seorang pecandu keluar dari rehabilitasi, maka ia harus menghadapi respon dari lingkungannya dan berharap akan mendapatkan dukungan, bukan penolakan. Namun tidak sedikit pecandu narkoba yang telah pulih dan kembali ke masyarakat merasa rendah diri dan tidak nyaman karena berbagai stigma yang ditujukan pada dirinya, bahkan dari keluarga besarnya sendiri. Tanpa disadari hal ini membuat pecandu narkoba menjadi sulit untuk mendapatkan dukungan dan penerimaan dari orang lain serta diliputi rasa bersalah dan malu akan keadaannya. Apakah ini berdampak buruk bagi pemulihan pecandu tersebut? Ya. Ini dapat menimbulkan perasaan frustasi, putus asa, dan akhirnya pecandu kembali melarikan diri ke narkoba.

Sementara itu, dari survey yang dilakukan oleh Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA), yang merupakan cabang dari U.S. Department of Health and Human Services[1], menunjukkan bahwa sikap masyarakat Amerika terhadap adiksi dan pemulihan dari narkoba masih negatif. Hanya 60% masyarakat Amerika yang merasa nyaman untuk tinggal bersebelahan dengan seseorang yang sedang menjalani pemulihan dari kecanduan alkohol. Sementara hanya kurang dari setengah responden yang menyatakan bahwa mereka akan merasa nyaman untuk tinggal bersebelahan dengan seseorang yang sedang menjalani pemulihan dari kecanduan obat-obatan terlarang. Untuk selengkapnya, dapat dilihat lebih lanjut pada diagram di bawah ini :
Prosentase Kenyamanan Responden Terhadap Pecandu yang Sedang Menjalani Pemulihan dari Penyalahgunaan Alkohol dan Obat-obatan Terlarang

Stigma dapat menghancurkan kehidupan pecandu narkoba maupun seluruh anggota keluarganya. Namun jika kesadaran masyarakat mengenai stigma ini menjadi semakin lebih baik, maka hal itu akan sangat menyelamatkan kehidupan pecandu narkoba dan keluarganya. Masyarakat hendaknya justru memberikan dukungan dengan mendorong mereka untuk segera menjalani pemulihan di rehabilitasi dan membantu mengembalikan kondisi mental mereka ketika kembali ke masyarakat, karena selama ini ketakutan akan mendapatkan label negatif dan konsekuensi-konsekuensi lain dari masyarakat (termasuk lingkungan pekerjaan) membuat pecandu narkoba dan keluarga menjadi ragu untuk melakukan solusi yang efektif dan efisien serta hanya berkutat dengan penyangkalan-penyangkalan yang justru semakin memperburuk keadaan.
Try to Touch Addicts’ Shattered Dream
Many addicts claim that before they entered the drug-scene, they thought of it as a realm of freedom, peace and the absence of convention.
The core of the rationalization of addict’s way of life and the drug abuse is :
“Drugs are the only way of living in the society without going mad.”
It contains the unique characteristics of an addict :
He craves for freedom to pursue a destiny different from what he is allotted with. But he chooses the shortest route to catch his dream without put his heart into it.
And here lies the tragedy of his intelligence and human potentials because by his action he not only denies others right but his own right to life as well. We consider addiction as a disease and the addict as a patient. Nobody is a born-addict he becomes an addict. And the society does have its own share of responsibility to make him one. So reflect back of our own self is necessary because “Not only what he chooses, but what he rejects is very important.”
We must realize the enormous human resource that is being misused in the trap of drug business. An addict is a helpless victim who needs our care and support to join the main stream of life from the mirth of crime and self-destruction.
Dikutip dari : Drug is Dragon Not The Addict : An insight into the personality of an addict. (Desember, 2008). Navjyoti Drug Demand Reduction Training Institute : Navjyoti Delhi Police Foundation.
Daftar Pustaka :
[1] Hanson, Dirk. Addiction : The Stigma Lives On. Oktober 2008. Addiction Inbox , The Science of Substance Abuse, Articles and Health Studies About Addiction and Alcoholism including The Most Recent Scientific and Medical Findings. Diakses pada tanggal 14 Juli 2009 di http://addiction dirkh.blogspot.com/2008/10/addiction-stigma-lives-on.html
[2] Harian Umum Pelita Persatuan Umat dan Kesatuan Bangsa (produser). Stigma Negatif, Musuh Para Mantan Pecandu Narkoba. 2003. Diakses pada tanggal 14 Juli 2009 di http://www.pelita.or.id/baca.php?id=41391
[3] Kabar Nasional, Sebanyak 51 Ribu Pecandu Narkoba Meninggal per Tahun. Mei 2009. Diakses pada tanggal 14 Juli 2009 di http://www.tvone.co.id/berita/view/13425/2009/05/07/sebanyak_51_ribu_pecandu_narkoba_meninggal_per_tahun
[4] Rosenbloom, D.L. (2009). Stigma and Discrimination : Coping With The Stigma of Addiction. HBO : Addiction.
beyondtheendoftheroad said,
July 15, 2009 at 2:59 pm
Thanks for the post.
Take Care.
Johny said,
July 17, 2009 at 2:07 pm
For ‘non addict’: don’t judge the book by it’s cover…
we really need your support not your labels..
thanks 4 ur support,
Regards,
Johny (recovering addict)
There said,
August 2, 2009 at 11:49 am
It’s quite right siy Vin. Om gw kan ada yang addicted dan keluarganya (istri n anak2nya) nutupin banget. Yah keluarga gw siy sbenernya tahu, tapi jadi pura2 ngga tahu gitu… Keluarganya kayaknya malu gitu. Padahal keluarga gw juga biasa2 aja. Kan people make mistake. Tapi akhirnya istri-nya cerita juga ke bonyok. Mungkin ngga tahan juga kali ya nanggung sendiri..